Negara Ini Melegalkan Ganja Karena Merasa Kalah

Negara Ini Melegalkan Ganja Karena Merasa Kalah

DI Indonesia, perang melawan narkoba sudah merupakan hal yang sangat umum di lakukan, terutama oleh kepolisian RI. Jika terjadi penangkapan pengedar narkoba, maka langsung dibuat berita utama di harian surat kabar manapun. Masih kita ingat, penangkapan Ketua MK Bpk. Akil Mochtar, gara-gara 1 linting ganja di temukan di meja kerjana, beritanya langsung heboh.

Bandingkan berita ini dengan apa yang sedang terjadi di Uruguay, sungguh sangat ironis sekali. Uruguay baru saja melegalkan penggunaan ganja, konsumsi ganja, dan bahkan bisa menanam ganja di rumah masing-masing. Wow… dan yang lebih membuat kaget, parlemen di Uruguay sudah berusaha selama 2 tahun agar ganja bisa dilegalkan oleh pemerintah. Hasilnya baru terbukti pada 11 desember lalu, dimana ganja dan budidayanya menjadi legal di Uruguay. Uruguay bukan negara pertama yang melegalkan ganja di negaranya, tapi sudah ada Belanda dan Portugal yang melegalkan ganja termasuk juga morfin, dan sabu sabu.

Sebenarnya apa alasan Uruguay melegalkan ganja di negaranya ?, ternyata menurut Presiden Uruguay, Jose Mujika, negara telah kalah dalam perang melawan narkoba. Menurut berita dari vivanews, ada 22 juta ton peredaran ganja tiap tahunna, atau sekitar USD 30 – 40juta / tahun. Daripada pemerintah kalah terus dalam perang melawan narkoba, maka sekalian saja di legalkan, sehingga peredaran ganja murni di kontrol oleh negara. Memang masih ada batasan dalam konsumsi ganja di Uruguay, seperti : warga bisa menanam ganja di rumahnya, maks 6 pot / rumah dan tempat yang boleh jual ganja hanya di apotek resmi dari pemerintah, itu pun di batasi hanya 40 gram / thn / orang.

Alasan yang di sampaikan pemerintah sangat masuk akal, daripada omzet perdagangan ganja masuk ke pasar gelap, lebih baik masuk ke pendapatan negara, selain itu daripada perang melawan pengedar narkoba menghabiskan banyak uang dan tenaga, lebih baik sekalian di legalkan saja, apalagi pertumbuhan pengkonsumsi ganja makin lama makin bertambah.

Ilustrasi

Ilustrasi

Namun menurut saya yang bukan pengkonsumsi narkoba, kebijakan itu mirip dengan kebijakan melarang rokok di indonesia. Negara kita kesulitan melawan jumlah perokok yang jumlahnyya sangat besar di indonesia, apalagi ditambah penerimaan cukai rokok dan jumlah pegawai pabrik rokok sangat besar . Pasti sangat dilematis bagi pemerintah untuk perang melawan rokok di indonesia, sama seperti perang melawan narkoba di uruguay , Belanda, maupun Portugal.

Semakin lama jumlah para perokok akan semakin besar, pabrik rokok akan semakin bertambah, jenis-jenis rokok akan semakin banyak. Usaha pemerintah dalam melawan rokok pasti sangat berat. Jadi menurut saya, daripada usaha pemerintah melarang rokok sembarangan, lebih baik sekalian saja belajar dari negara Uruguay, tidak perlu buang-buang waktu, uang dan tenaga untuk promosi iklan dilarang merokok. Tetapi sumber dana tersebut lebih baik digunakan untuk membangun infrastruktur di daerah-daerah yang masih tertinggal.

Inspiration

Subscribe

Berlangganan gratis, masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)