Hadiah Penghargaan Pembaca dan Penghapal Terbaik STQN Bangka Belitung, Memperihatinkan!

Mendapatkan uang banyak, memang tempatnya bukan di Seleksi Tilawatil Quran (STQ) atau Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Hadiah penghargaan pembaca dan penghapal terbaik pada Seleksi Tilawatil Quran Nasional (STQN) ke-22 di Provinsi Bangka Belitung tahun 2013 adalah contohnya. Sangat mengherankan, Seleksi Tilawatil Quran (STQ) sebagai ajang pendalaman pemahaman al-Quran, ajang menciptakan motivasi untuk membaca dan mencintai al-Quran dll, ternyata tidak sejalan dengan penghargaan kepada sang juara secara materil.

Berbeda dengan beberapa kejuaraan dalam berbagai lomba selain al-Quran. Pekan Olahraga Nasional, Olimpiade Siswa, atau lomba lain. Seorang peserta yang berhasil menjadi juara, bisa menjadi seorang Milyarder. Seorang teman saya, mengikuti Sea Games cabang Sepak Takraw misalnya, hanya bermain 2 menit karena posisinya sebagai pemain cadangan di dua cabang Sepak Takraw, mengantongi 1 Milyar. Pemerintah tidak tanggung-tanggung atas nama motivasi, dan penghargaan memberikan 500 juta kepada peraih medali emas. Lihat pula penghargaan atas nama motivasi bagi siswa berprestasi di ajang olimpiade, selain penghargaan materil, pun mendapatkan bea siswa sampai strata 3 di perguruan tinggi manapun yang diinginkan.

Menggunakan alasan kurangnya penghargaan materil diberikan sebagai hadiah penghargaan pembaca dan penghapal terbaik pada Seleksi Tilawatil Quran (STQ) yang berbeda dengan penghargaan pada lomba lain, tentu sangat mudah tapi kedengaran sepele. Di antara alasan-alasan itu, “Kita kan bukan Negara Islam, Pembaca al-Quran itu harus ikhlas, biarlah Tuhan yang membalas,” dan masih banyak alasan memilukan lainnya.

Berapa penghargaan pembaca dan penghapal terbaik atau sang juara pada Seleksi Tilawatil Quran Nasional (STQN) ke-22 2013 di Bangka Belitung?. Peringkat pertama, mendapatkan piagam, piala, dan uang pembinaan sekecil 6 juta Rupiah, peringkat kedua mendapatkan piagam, piala, dan uang pembinaan sekecil 4 juta Rupiah, dan peringkat ketiga mendapatkan piagam, piala, dan uang pembinaan dan uang 2.5 juta Rupiah. Uang penghargaan itu tidak diterima langsung, tapi akan ditransfer ke rekening peserta yang berdasarkan pengalaman beberapa peserta durasi waktunya sampai bulanan, plus potong pajak. Menurut anda kebangetan tidak?.

STQN Bangka Belitung 2013

Suasana arena STQN malam hari

Sepertinya, penyelenggara dalam hal ini Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) lembaga di bawah naungan Kementerian Agama RI, kurang bisa merasakan atmosfer perjuangan seorang peserta dalam mengikuti STQ atau MTQ. Betapa tidak, untuk mencapai tingkat Nasional, seorang peserta haruslah menjadi juara di tingkat Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan merasakan karantina pelatihan di daerah masing-masing, mengabaikan pekerjaan lain, hanya untuk menjadi seorang juara di ajang STQN.

Uang memang bukanlah satu-satunya yang bisa menimbulkan motivasi dan gairah untuk mempelajari dan mencintai al-Quran. Tapi saya sulit membaca rasa keadilan para penentu kebijakan tehadap jumlah penghargaan ini. Jikalaku Atlit bisa menjadi milyarder karena prestasinya, kenapa seorang qari dan hafizh tidak bisa, kenapa penghargaan pembaca dan penghapal al-Quran terbaik dianak tirikan. Atau mungkin ini adalah legitimasi bahwa kita benar-benar seorang sekuler, kita benar-benar sangat mencintai dunia, dan kita benar-benar tidak mencintai al-Quran melalu para pembaca dan penghapalnya lagi?.

Mushaf al-Quran

Subscribe

Berlangganan gratis, masukan e-mail anda, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

No Responses

Leave a Reply


nine + 6 =