Makna Perpisahan dari Pisah Tamat di Sekolah Hari Ini

Makna Perpisahan dari Pisah Tamat di Sekolah Hari Ini

Ekspor tenaga tadi malam karena harus menyelesaikan estimasi hasil ujian nasional 2013 sekolah saya hilang, saat jam setengah sembilan pertanda acara pisah tamat siswa-siswi di sekolahku di mulai. Semua siswa (i) hadir bersama dengan perwalian masing-masing. Siswa berpakaian putih dengan dasi hitam. Dan siswi berpakaian pesta, elusan salon, mungkin harga jasanya tak murah. Tak ada perintah dari sekolah untuk tampil seperti itu. Tapi, mungkin ada makna yang mereka harap dari penampilan hebat di pisah tamat kali ini.

Ketika pembacaan pengumuman kelulusan, dan mereka mendengar kata 100 %, sontak siswi berlinangan airmata, sampai-sampai melupakan air mata yang meleleh, larut bersama tebalnya bedak, make up. Larut. Tak kalah para siswa berteriak histeris, sebagian mengangkat tangan, dan tak sedikit bertepuk tangan. Tangis dan riuh siswa (i), tentu memiliki makna tersendiri. Lulus berarti, kenangan 3 tahun disekolah bersama teman dan pembinaan guru, akan mereka tinggalkan. Lulus bermakna, nuansa SMA sederajat menunggu mereka, bukan lagi berhadapan dengan guru yang mungkin “membosankan,” mereka pun riuh… horeeee.

Siapa sih yang tidak bersedih dengan yang namanya perpisahan ?. Berpisah adalah setengah dari kehilangan. Berpisah adalah kodrat, benturan, konsekuensi dan akibat dari pertemuan. Ada yang gembira berpisah, ada pula yang bersedih. Perasaan gembira karena bakal terlepas dari jerat, “kenakalan” dengan tameng HAM, melanggar sunnah Nabi. Lebih banyak yang bersedih, toh kenangan lusuh tak diharap, seakan menjadi indah, dan kini akan beranjak pergi.Belawa-20130601-00042

Salah satu siswi “bandel” karena sering melanggar tatib sekolah, sering terlambat, lumayan suka membolos, bahkan untuk pisah tamat hari ini saja, masih telat, menangis tersedu. Apa sebabnya?, sulit diurai, kecuali mampu memberi makna dari sebuah perpisahan. Kesalahan akan muncul ketika akan berpisah. Mungkin sudah menjadi teori dari sistem ke-diri-an manusia.

Mungkin dari mereka para siswa (i) itu tak tahu. Kepergian siswa (i) adalah caraku untuk merasakan nikmatnya merindu. Makna yang mereka hadirkan hari ini, tak jauh beda peliknya saat awal kedatangan mereka terdahulu. Sebenarnya tanpa mereka nangis pun, guru sudah siap dengan setiap kepergian siswa (i). Karena guru sudah terbiasa memaknainya, bahwa memang siswa (i) hanyalah sebatas kedatangan saja. Sakit…

Saya salah satu guru mereka ingin berkata, jika selama ini aku “kejam,” itu adalah caraku untuk kelak tahu makna kepergianmu. Akupun menangis saat menyadarinya. Tapi hati tegar manakala mengingat, masih banyak makna berbeda menghadang guru kalian di depan mata. Selamat meniggalkan guru kalian. Tapi ketahuilah, kelak makna perpisahan kali ini akan membuat kalian kembali.

Subscribe

Berlangganan gratis, masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)