Perbedaan Teman, Sahabat, dan Pacar

Manusia sebagai makhluk sosial, memiliki hubungan terhadap manusia selain dirinya. Hubungan tersebut diistilahkan dan dimaknai berbeda, terkadang dikatakan sebagai teman, sahabat, cuma dekat, atau dengan bahasa frontal, pacaran. Apa sih perbedaan teman, sahabat, dan pacaran?. Berikut, sedikit ulasan berdasarkan kenyataan yang ditemukan penulis.

Seorang yang naik kendaraan ketemu orang tua di jalan. Jika dia hanya teman, maka akan mengatakan dan sekedar menyapa, “Sampai ketemu om/tante,” atau”Hy om/ tante”, atau sapaan lain. Berbeda dengan jika dia seorang sahabat. Dia akan menawarkan bantuan dengan serius, entah menawarkan bantuan mengantar, atau meminjamkan kendaraan.

Seorang teman mengasyikkan hanya dalam canda, bisa membantumu riang, namun sulit membuatmu menangis, kecuali itu penghinaan. Berbeda dengan sahabat, sahabat bisa bertahan menemanimu saat jatuh terpuruk, bisa membuatmu menangis, karena haru. Candanya bermakna, tak hanya membuatmu sekedar riang dan gembira, tapi riang yang menginspirasi.

Teman mungkin bisa banyak, namun tidak banyak diantara mereka yang bisa menjadi sahabat. Begitu pula sebaliknya. Persahabatan diuji dalam dua hal; ketika membuat dia sebal, dan ketika satu dari dua sahabat tidak punya sesuatu yang dibanggakan. Sahabat akan bertahan, dan tetap tersenyum meskipun itu menyebalkan, sahabat akan bertahan di dekatmu bahkan memberimu, meski kamu tak punya sesuatu.

Sahabat menemani dengan apa adanya, sedangkan teman menemani karena ada apanya. Teman mempertimbangkan keuntungan, sedangkan sahabat merasa keuntungan terbesarnya adalah sahabatnya. Teman mengambil hati temanya, beda dengan sahabat, sekaligus mengambil hati keluarga sahabatnya.

Dalam pertemanan kita jarang menemukan ujian, karena kehadirannya bukan prioritas dan bukan tujuan, namun dalam persahabatan kita perlu mempertaruhkan harapan. Harapan sahabat menjadi harapan kita. Tidak heran jika sahabat cenderung lebih menikmati aktivitasnya dibanding orang yang hanya memiliki teman.

Persahabatan memiliki nilai mahal dan bukan harga. Nilai termahal adalah melupakan keakuan, nilai termurah tidak memahami keakuan terhadap sahabat. Dalam perilaku, teman banyak bertanya, sementara sahabat, memahami meski tanpa kata. Mereka cenderung saling mengerti. Teman menanyakan mengapa menangis, sedangkan sahabat bergerak menyeka air mata dan mengajak segera bergembira, meski hanya sandiwara.

Ya Tuahnku, saya butuh teman dan sahabat. Itu saja

 

Lantas bagaimana dengan pacaran?. Menurut makna bahasa, pacaran adalah proses dalam rangka persiapan menikah. Dalam pandangan syariah sub muamalah, pacaran islami adalah yang tidak melanggar larangan nash yang qath’i (pasti).

Jika dikaitkan dengan makna teman dan sahabat di atas, maka pacaran yang tidak dilandaskan dengan kaidah yang baik (syariah), adalah wujud pertemanan. Namun jika pacaran dilandasi dengan niat baik, atau diistilahkan pacaran islami, maka posisinya sebagai sahabat. Apa bentuk pacaran islami?, adalah yang memposisikan dirinya sebagai sahabat.

Pacar yang baik adalah sahabat sejati. Dia peduli keluarga, gembira dan sedih bersama “pacar”nya sebagai satu kesatuan, pacar adalah teman segala hal, tiada ujian bagi pacar yag serius selain menjadi masalah bagi pasanganya. Artinya, pacar yang tidak menjadi sahabat, maka dia adalah teman, dan hati-hati jikalau sebenarnya dia adalah musuhmu.

Subscribe

Berlangganan gratis, masukan e-mail anda, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)

3 Responses

  1. ANDI VAN DE KURNJanuary 31, 2013 at 10:43 amReply

    nice post gan.. Enak dibaca.. Ringan dan menarik
    :-D

    https://mobile.twitter.com/Andivandekurn3

  2. ANDI VAN DE KURNJanuary 31, 2013 at 10:45 amReply

    https://mobile.twitter.com/Andivandekurn3

    di sana gabung ke web gw ya :-)

  3. Indahnya Bertemu Sahabat LamaJanuary 25, 2014 at 9:41 amReply

    […] Sahabat tentu berbeda dengan teman. Seorang teman, masuk dengan memberi salam, duduk yang rapi, melahap cemilan saat dipersilahakan, mohon pamit jika akan pulang. Sahabat lebih dari itu. Biasanya seorang sahabat rentan melanggar etika umum. Datang beri salam, duduk rapi atau tidak bukan masalah, duduk atau baring juga tak masalah, kaki menjuntai tidak sopan dalam etika umum juga tak masalah, cemilan datang dilahap tanpa dipersilahkan. Itulah sahabat, dia lebih dalam dari sekedar teman. […]

Leave a Reply


5 × eight =