Baju Baru KORPRI; Momentum Berubah Menjadi Lebih Baik

Baju Baru KORPRI; Momentum Berubah Menjadi Lebih Baik

Akhir tahun 2012, saya mendapat undangan mengikuti sebuah lomba yang dilaksanakan oleh Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Provinsi. Sebagai penghargaan dari Kabupaten, saya mendapat 1 potong kain untuk baju KORPRI. Kain untuk baju KORPRI-ku akhirnya jadi 2, karena sebelumnya sudah mendapat dari kantor. Warna kain untuk baju KORPRI itu, berbeda dengan warna baju KORPRI sebelumnya. Bagi saya, warna kali ini lebih elegan, dan menojol.

Banyak rekan kerja sangat suka dengan desain dan motif kain untuk baju itu. Banyak membawa perubahan dari sisi kehati-hatian mengikuti upacara misalnya. Mungkin karena masih baru, pikirku. Dan ternyata benar, sedikit demi sedikit, mejik dari motif kain baru itu kini berubah. Tak ada lagi kehati-hatian, mungkin sudah usang. Benar kata Tuhan, “Dan pakaian takwa itu lebih baik.” Takwa ditunjukan dengan perilaku. Seperti halnya denga Pegawai Negeri Sipil dengan wadah KORPRI-nya, meski baju seragamnya dari benang emas, perilaku baik dan pelayana primalah yang diharapkan masyarakat.

Jika dilihat dari konteks sejarah, KORPRI bermula ketika tentara Jepang menggunakan bekas pegawai tentara Hindia Belanda, dan tepat pada hari kemerdekaan, diubah menjadi PNKRI, Pegawai Negeri Kesatuan Republik Indonesia. Periode 1948-1949, PNKRI yang tinggal di daerah Pemerintahan Republik Indonesia, disebur PRI (Pegawai Republik Indonesia). PNKRI yang bekerja di daerah pendudukan Belanda disebut Pegawai Non-Koperator, dan PNKRI yang bekerjasama dengan belanda disebut Pegawai Koperator.

Pada tahun 1949, seluruh Pegawai Negeri diberi nama PRIS (Pegawai Republik Indonesia Serikat), dan pada tahun 1966, seluruh Pegawai Negeri disatukan dalam satu wadah yang kemudian berdasarkan Kepres Nomor 82 tahun 1971. Dari Kepres inilah cikal bakal KORPRI (Korps Pegawai Republik Indonesia) yang terbentuk pada tanggal 29 November 1971.

8 tahun lagi usia KORPRI memasuki 1/2 abad, usia yang hampir pensiun jika dilihat dari pekerjaan anggotanya. Usia yang lama ini, KORPRI semetinya sudah bisa menjadi sandaran dan pijakan agar anggotanya bisa dipermak semakin dewasa dan matang. Sayang, fakta dan cerita banyaknya anggota KORPRI belanja di Mall, nongkrong di warkop, ngerumpi di parkiran saat jam kerja, tidak berkorelasi dengan usia KORPRI saat ini. Anggota KORPRI dan KORPRI sendiri jauh dari kesan profesional.

Entah mengapa, menjadi anggota KORPRI seakan menjadi impian tertinggi para sarjana. Padahal jika disadari ada 5 poin janji KORPRI, yang sungguh “luhur” jika mampu dilaksanakan dengan baik. Dalam 5 janji atau yang diistilakan Panca Prasetya Korps Republik Indonesia, poin 1 dan 2 adalah ikrar fundamental, jika dalam bahasa agama merupakan akidah setiaKorprip anggota KORPRI. Selanjutnya, poin 3 sampai 5, adalah komitmen yang menunjuk tindakan teknis ketika bekerja nantinya.

Seorang buruh yang bekerja sebagai tukang batu depan rumah, terkadang memakai pakaian KORPRI model lama, biru, dan lebih terang. Entah dia seorang anggota KORPRI atau pensiunan, dia kelihatan suka dengan bajunya itu. Dan memang tidak penting untuk dipermaslahkan. Pergantian warna baju KORPRI setidaknya bisa memberi harapan. Setidaknya warna hijau baju KORPRI sekarang semoga sekaligus menjadi sugesti awal dan tak pernah usang untuk menjadi anggota KORPRI yang mengamalkan 5 poin janjinya, sekaligus berubah menjadi lebih baik… :)

Subscribe

Berlangganan gratis, masukan e-mail, masukan kode, "submit." cek e-mail, klik link konfirmasi. Mari berbagi :)